X

SOEHARTO DAN PARADOKS KEPAHLAWANAN

Oleh Nur Syamsi

Perempuan Merdeka

Presiden Prabowo resmi memberikan gelar pahlawan nasional kepada presiden kedua yaitu Soeharto berbarengan dengan Marsinah dan Gusdur. Tetapi apakah Presiden soeharto layak disebut sebagai pahlawan? Ibaratkan menempatkan marsinah dengan soeharto sebagai pahlawan Nasional ibarat menempatkan korban dan pembunuhnya dibingkai yang sama. Menurut saya soeharto tidak layak disebut sebagai pahlawan mengapa demikian karena kita semua tahu bahwa gelar pahlawan itu diberikan kepada sosok yang dalam masa hidupnya itu melakukan berbagai Tindakan berjasa yang berprinsipkan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, keteladanan, moral dan Hak Asasi Manusia. Jika kita mengingat Sejarah masa kepemimpinan Soeharto yang berlangsung selama 32 tahun (1967-1998) yang dijuluki sebagai the smilling general (jendral yang tersenyum) tetapi dibalik senyuman itu ada begitu banyak perhitungan yang mematikan.
Masa kepemimpinan Soeharto terjadi begitu banyak bentuk kekerasan mulai dari dia mau menjabat sampai menjabat sampai dia mau turun dari jabatannya sebagai presiden banyak sekali terjadi pola kekerasan pelanggaran berat HAM dan terdapat 9 kasus pelanggaran HAM yang dilaporkan oleh Komnas HAM yang dilakukan selama masa kepemimpinan Soeharto, mulai dari peristiwa 1965,peristiwa tanjung periuk, talangsari, kekerasan dan pelanggaran ham yang terjadi di timor timur,aceh,papua, sampai dengan menjelang akhir kepemimpinan beliau pun terdapat berbagai macam kekerasan mulai dari peristiwa Mei 1998,trisakti, semanggi 1 dan 2, hingga penghilangan para aktivis pro demokrasi 1997-1998. Yang Sebagian dari mereka tidak pernah Kembali tidak ada suara tembakan, tidak ada berita di koran, hanya nama-nama yang perlahan tenggelam ditelan waktu dalam diamnya negara. Jadi lantaskah Soeharto layak mendapatkan gelar pahlawan itu,apakah atas dasar antara jasa dan luka bangsa atau jasa dan dosa dan apabila Soeharto pahlawan berarti yang melengserkannya penjahat?

Dipublikasikan pada 13 November 2025