X

Geng Motor: Bukan Sekadar Kenakalan, Melainkan Gejala Ketiadaan “Rumah”

Oleh Afdal Ansar

Mahasiswa Hukum Tata Negara

Fenomena geng motor yang terus muncul bak rumput liar di musim hujan seringkali disikapi dengan solusi represif yang instan: razia, penangkapan, dan pemenjaraan. Namun, pendekatan ini jelas gagal total. Buktinya, mereka terus ada, regenerasi, dan bahkan bermetamorfosis. Menurut saya, geng motor bukanlah sekadar kumpulan anak muda ugal-ugalan, melainkan sebuah gejala akut dari gagalnya kita menyediakan “rumah” yang sesungguhnya bagi mereka—sebuah tempat di mana identitas, pengakuan, dan rasa memiliki itu tumbuh secara sehat. Lihatlah Makassar: di kota ini, seorang remaja 16 tahun bisa menderita 9 luka bacok dan sebatang busur panah menancap di pinggulnya, bukan karena ia terlibat tawuran, melainkan hanya karena pulang ke rumah dan berpapasan dengan gerombolan yang baru saja usai perang. Ini bukan lagi kenakalan remaja; ini adalah teror eksistensial.

Pertama, geng motor adalah jawaban instan atas krisis identitas dan rasa memiliki. Manusia, terutama remaja yang sedang mencari jati diri, memiliki kebutuhan fundamental untuk diterima dalam sebuah kelompok. Ketika institusi formal seperti keluarga, sekolah, atau komunitas positif gagal menjadi tempat yang aman dan mengukuhkan eksistensi mereka, maka “rumah” alternatif pun dicari. Geng motor, dengan segala ritual, simbol (atribut jaket, emblem), dan solidaritasnya yang kental, menawarkan paket komplet: “Kamu bagian dari kami, kami adalah saudaramu, dan kami akan melindungimu.” Bagi anak yang di rumahnya sunyi secara emosional atau di sekolahnya dianggap “sampah masyarakat”, tawaran ini sangat sulit ditolak. Data dari Makassar mengonfirmasi hal ini: aparat kepolisian menyatakan bahwa rata-rata pelaku yang ditangkap adalah pelajar. Mereka bukan monster, melainkan anak-anak yang mencari validasi dengan cara yang salah di jalanan.

Kedua, fenomena ini adalah cermin buram dari pelarian dan katup frustrasi sosial-ekonomi. Sulit untuk memungkiri bahwa banyak anggota geng motor berasal dari kelas menengah-bawah yang secara struktural menjadi “pecundang” dalam pusaran ekonomi. Jalanan menjadi satu-satunya panggung eksistensi. Knalpot bising bukan sekadar pelanggaran, tapi teriakan: “Lihat, saya ada!” Kekerasan yang mereka lakukan seringkali adalah ledakan akumulasi frustrasi terhadap sistem yang tidak adil, yang sayangnya disalurkan secara destruktif ke sesama warga kelas bawah. Yang paling mengerikan, sasaran mereka bukan lagi lawan tawuran, melainkan warga sipil biasa. Di Makassar, 23 pelaku ditangkap pada Maret 2026 karena menyerang warga yang kebetulan berada di pinggir jalan setelah mereka gagal menemukan musuhnya. Seorang pengemudi ojek daring bahkan menjadi korban pembusuran di siang bolong, dengan anak panah menancap di punggungnya saat ia sedang mencari nafkah. Ini adalah potret frustrasi yang meledak tanpa arah, membabi-buta mengenai siapa saja.

Ketiga, ada eskalasi kebrutalan yang difasilitasi oleh rantai pasok senjata ilegal. Realitas di Makassar menunjukkan bahwa kekerasan geng motor tidak lagi bersifat spontan, melainkan terencana dan dipersenjatai. Ciri khasnya adalah penggunaan busur panah atau “patte lari”. Yang lebih mencengangkan, polisi mengungkap adanya pembuat busur panah yang secara khusus menjualnya kepada kelompok geng motor seharga Rp50 ribu per buah. Harga yang sangat murah untuk sebuah senjata yang bisa merenggut nyawa. Fakta ini membuktikan bahwa ada ekosistem kriminal yang menopang aksi mereka: ada pemasok, ada pembeli, dan ada panggung jalanan untuk memamerkan kekuasaan. Ini bukan lagi sekadar “kenakalan”, melainkan bisnis dan budaya kekerasan yang sudah mengakar.

Keempat, inkonsistensi penegakan hukum dan pembiaran politik tetap menjadi akar yang memungkinkan monster ini terus bernapas. Penangkapan rutin dilakukan—Polrestabes Makassar secara berkala meringkus puluhan pelaku—namun efek jera tak kunjung tercipta. Mengapa? Karena selama ada oknum yang memanfaatkan kekuatan premanisme jalanan ini untuk kepentingan politik sesaat, mereka akan selalu mendapat “nafas buatan” berupa perlindungan dan legitimasi. Sampai-sampai, anggota DPRD Makassar harus turun tangan menyerukan agar RT/RW dan tokoh masyarakat proaktif melaporkan aktivitas mencurigakan. Ini adalah pengakuan pahit bahwa aparat formal kewalahan dan pendekatan represif-polisionil semata telah gagal.

Jadi, memberantas geng motor bukanlah soal menambah sel penjara atau menembak di tempat. Itu adalah cara berpikir orang malas. Realitas di Makassar—di mana anak panah dijual bebas seharga puluhan ribu rupiah dan seorang remaja bisa dibacok sembilan kali hanya karena pulang ke rumah—adalah jeritan yang harus kita dengar. Solusi fundamentalnya adalah menghadirkan “rumah-rumah” alternatif yang lebih manusiawi: memperkuat ketahanan keluarga, menjadikan sekolah sebagai ruang tumbuh yang menyenangkan, membuka jutaan lapangan kerja layak, dan menyediakan ruang publik inklusif di mana energi muda bisa disalurkan lewat seni, olahraga, dan wirausaha. Selama “rumah” yang sesungguhnya tidak kita bangun, selama itu pula jalanan—dari sudut-sudut Makassar hingga kota-kota lain—akan tetap menjadi hutan rimba bagi mereka yang mencari jati diri dengan cara yang salah. Geng motor adalah monster yang kita ciptakan sendiri dari pengabaian kita.

Dipublikasikan pada 30 May 2026