X

Fenomena Apatisme Mahasiswa terhadap Isu-Isu Kenegaraan

Oleh Muhammad Fahd Izzuddin Abdul Al Qahar

Anggota Komisi Pengawasan Senat Mahasiswa FSH periode 2026

Mahasiswa secara historis dikenal sebagai agent of change, social control, dan moral force yang memiliki peran strategis dalam mengawal jalannya pemerintahan serta memperjuangkan kepentingan masyarakat. Dalam berbagai momentum penting perjalanan bangsa, mahasiswa sering menjadi kelompok yang mendorong lahirnya perubahan sosial dan politik. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, muncul kecenderungan bahwa sebagian mahasiswa menunjukkan sikap yang semakin apatis terhadap berbagai isu kenegaraan, mulai dari kebijakan publik, korupsi, penegakan hukum, hingga persoalan sosial dan ekonomi yang berkembang di masyarakat.

Sikap apatis ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Pertama, perkembangan teknologi dan media sosial membuat sebagian mahasiswa lebih fokus pada hiburan dan kehidupan pribadi dibandingkan mengikuti perkembangan isu nasional. Informasi yang sangat banyak dan cepat juga sering menimbulkan kejenuhan sehingga muncul anggapan bahwa mengikuti isu negara tidak memberikan dampak langsung terhadap kehidupan mereka.

Kedua, menurunnya kepercayaan terhadap institusi politik dan pemerintah juga menjadi penyebab munculnya sikap apatis. Banyak mahasiswa merasa bahwa aspirasi masyarakat sering kali tidak didengar atau perubahan yang diperjuangkan sulit terwujud. Akibatnya, muncul pandangan bahwa keterlibatan dalam isu-isu publik hanya membuang waktu dan tenaga.

Ketiga, tuntutan akademik dan persaingan dunia kerja membuat sebagian mahasiswa lebih memprioritaskan prestasi akademik serta pengembangan karier pribadi. Fokus yang berlebihan pada pencapaian individu dapat mengurangi kepedulian terhadap persoalan sosial dan kebangsaan.

Padahal, sikap apatis mahasiswa terhadap isu negara merupakan hal yang perlu menjadi perhatian. Ketika mahasiswa tidak lagi kritis dan peduli terhadap kebijakan publik, fungsi kontrol sosial terhadap pemerintah akan melemah. Demokrasi membutuhkan partisipasi aktif warga negara, termasuk mahasiswa sebagai kelompok intelektual yang memiliki kemampuan berpikir kritis dan objektif.

kepedulian mahasiswa terhadap persoalan kebangsaan tidak harus selalu diwujudkan melalui aksi demonstrasi di ruang publik. Partisipasi tersebut dapat diekspresikan dalam berbagai bentuk yang lebih substantif, seperti keterlibatan dalam diskusi ilmiah, pelaksanaan penelitian yang berorientasi pada pemecahan masalah sosial, kegiatan pengabdian kepada masyarakat, penyampaian kritik yang argumentatif dan berbasis data, serta keaktifan dalam organisasi kemahasiswaan maupun kegiatan sosial. Yang terpenting adalah terpeliharanya kesadaran kritis bahwa setiap kebijakan publik yang diambil oleh negara akan memiliki implikasi langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa sebagai bagian dari warga negara

Oleh karena itu, mahasiswa perlu kembali menumbuhkan semangat intelektual dankepedulian sosial sebagai bagian dari tanggung jawab moral mereka. Sikap kritis dan partisipatif bukan hanya penting untuk kemajuan bangsa, tetapi juga menjadi ciri khas mahasiswa sebagai kaum terdidik yang memiliki peran strategis dalam menjaga demokrasi dan masa depan negara.

Dipublikasikan pada 14 June 2026