Fenomena aksi massa di Indonesia menunjukkan dilema tersendiri. Di satu sisi, aksi yang ada adalah bentuk ekspresi yang patut diapresiasi. Namun, di sisi lain, potensi anarkisme tidak dapat diabaikan. Insiden seperti pembakaran gedung DPRD di Sulawesi Selatan misalnya, mencerminkan bagaimana emosi kolektif yang tak terkendali dapat memicu kerusuhan.
Mungkin, huru hara yg ada, pembakaran gedung DPRD hingga DPRD Provinsi di Sulawesi Selatan misalnya, ada yang motivasinya berangkat dari emosi yang tak lagi terbendung, meskipun menimbulkan korban jiwa yang sangat disayangkan. Dalam kajian psikologi sosial, hal ini dapat dijelaskan melalui contagion effect (penularan emosi dalam kerumunan) dan deindividuasi (melemahnya identitas personal dalam massa), sehingga individu merasa bebas dari tanggung jawab moral.
An individual in a crowd is a grain of sand amid other grains of sand, which the wind stirs up at will.
- Gustave le Bon, Ahli Psikologi Massa asal Prancis abad 19
Artinya, Seseorang di tengah kerumunan bagaikan sebutir pasir di tengah butiran pasir lainnya, yang diterbangkan angin sesuai keinginannya.
Dan yang perlu kita waspadai adalah ketika banyak orang yang sebenarnya tidak paham dengan akar masalah yang ada tapi turut tersulut emosinya akibat adanya group polarization (pengaruh kelompok atau kerumunan (crowded) men-trigger mereka untuk melampiaskan emosinya untuk merusak.
Sehingga, kita perlu paham bahwa aksi menyampaikan aspirasi perlu diperhatikan point-point berikut:
- Harus paham dengan masalah yang ada, jangan sampai ada orang yang masuk ke ranah yang sebenarnya bukan bidangnya, namun karena adanya rangsangan eksternal, sehingga bisa memicu chaos
- Perlu mengetahui solusi dari masalah yang ada, karena tujuan dari menyampaikan aspirasi bukan hanya sekedar meng-advokasi suara yang terpendam
- Perlu mengetahui objek sipil yang tidak boleh dijadikan pelampiasan emosi, seperti halnya dalam Hukum Humaniter Internasional, perlu ada pembedaan antara objek militer dan objek sipil, antara Kombatan dan non Kombatan. Ini juga berkaitan dengan kualitas literasi individu dan kekuatan self control. Perlu kita tahu, ketika emosi telah mendominasi, akal sehat pun turut tereliminasi. Sehingga turun aksi bukan hanya saraf yang dituntut tapi juga perasaan dan hati nurani.
Semua hal di atas perlu berakar pada pendidikan akhlak, literasi perdamaian dan mobilisasi massa yang baik, perlu diketahui kembali yang menjadi tujuannya apa dan apa motivasi mereka untuk melakukan aksi, sehingga dengan mengetahui Why yang ada, maka How yang melahirkan tindakan tidak akan terkontaminasi oleh destruktifisme atau perilaku psikopatologi.