Masuk kuliah ternyata bukan cuma soal mencari kelas, mengejar jadwal, mengerjakan tugas, dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Di tengah kehidupan kampus yang semakin luas, seseorang juga bisa menemukan teman baru, lingkungan baru, bahkan seseorang yang membuatnya mulai mengenal perasaan.
Bagi mahasiswa baru, masa awal perkuliahan merupakan masa untuk mengenal banyak hal. Pertemanan semakin luas, interaksi dengan orang lain semakin beragam, dan kebebasan dalam menentukan pilihan juga semakin besar. Tidak mengherankan jika dalam proses tersebut muncul ketertarikan antara satu orang dengan orang lainnya.
Dari sinilah fenomena pacaran di bangku kuliah menjadi sesuatu yang menarik untuk dibicarakan.
Sebenarnya, apakah memiliki hubungan ketika menjadi mahasiswa merupakan sebuah masalah?
Pertanyaan tersebut tidak harus dijawab hanya dengan “boleh” atau “tidak boleh”. Memiliki perasaan kepada seseorang merupakan sesuatu yang manusiawi. Setiap orang juga memiliki ruang untuk menentukan kehidupan pribadinya. Namun, kebebasan dalam kehidupan pribadi bukan berarti seseorang tidak memiliki tanggung jawab terhadap pilihan yang diambil. Hubungan yang dijalani tetap perlu memiliki batas dan kesadaran. Apalagi ketika seseorang mulai memasuki lingkungan perkuliahan, ada tanggung jawab lain yang juga harus diperhatikan: pendidikan, tugas, keluarga, pengembangan diri, serta masa depan.
Dalam konteks kehidupan mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi Islam, persoalan hubungan antara laki-laki dan perempuan juga tidak dapat dilepaskan dari nilai agama.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra’ ayat 32:
«“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.”»
Ayat tersebut memberikan peringatan untuk tidak mendekati zina. Karena itu, hubungan antara laki-laki dan perempuan perlu dijalani dengan menjaga batas dan mempertimbangkan nilai-nilai agama.
Namun, pembahasan mengenai ayat tersebut juga sebaiknya tidak digunakan untuk sekadar menghakimi seseorang. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap individu memiliki kesadaran untuk menjaga dirinya, memahami batas dalam berinteraksi, dan bertanggung jawab terhadap pilihan yang dibuat. Sebab, persoalan dalam hubungan bukan hanya mengenai ada atau tidaknya pasangan. Persoalan yang lebih penting adalah ketika hubungan tersebut mulai mengganggu kehidupan seseorang.
Tugas kuliah yang seharusnya dikerjakan menjadi tertunda. Waktu belajar semakin sedikit. Kegiatan yang sebelumnya bermanfaat mulai ditinggalkan. Bahkan, tidak jarang seseorang terlalu bergantung kepada pasangannya dalam mengambil keputusan. Jika hal tersebut terjadi, persoalannya bukan lagi sekadar tentang pacaran. Persoalannya adalah prioritas. Masa kuliah merupakan salah satu fase untuk membangun kemampuan dan mempersiapkan masa depan. Ada ilmu yang harus dipelajari, pengalaman yang perlu dicari, kemampuan yang perlu dikembangkan, dan berbagai kesempatan yang mungkin tidak datang dua kali.
Karena itu, hubungan pribadi seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk berkembang. Namun, bukan berarti mahasiswa yang memiliki pasangan otomatis tidak fokus terhadap pendidikan. Begitu pula mahasiswa yang tidak memiliki pasangan tidak otomatis lebih produktif. Setiap orang memiliki cara berbeda dalam menjalani kehidupan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana seseorang mampu menempatkan hubungan pribadi secara proporsional.
Memiliki pasangan bukan sebuah pencapaian yang harus dikejar. Tidak memiliki pasangan juga bukan sebuah kekurangan.
Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menggunakan masa kuliahnya dengan baik.
Hubungan yang sehat seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri. Kehidupan akademik tetap berjalan, hubungan dengan keluarga dan teman tetap terjaga, serta kesempatan untuk belajar dan berkembang tetap diberikan ruang.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan sekadar:
“Apakah mahasiswa boleh pacaran?”
Tetapi:
“Apakah sebuah hubungan dapat dijalani tanpa mengorbankan tanggung jawab dan masa depan?”
Pertanyaan tersebut mungkin lebih penting untuk direnungkan.
Memiliki perasaan adalah hal yang manusiawi. Mengenal seseorang juga merupakan bagian dari kehidupan. Tetapi keduanya tetap perlu dijalani dengan kesadaran, batas, dan tanggung jawab.
Bagi mahasiswa baru, masa perkuliahan masih panjang. Tidak perlu terburu-buru menjadikan hubungan sebagai pusat kehidupan. Ada banyak hal yang bisa dipelajari, banyak pengalaman yang bisa dicoba, dan banyak kemampuan yang bisa dikembangkan.
Pada akhirnya, memiliki perasaan bukan masalah. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana perasaan tersebut ditempatkan agar tidak mengambil alih seluruh kehidupan.
Kuliah tetap menjadi bagian penting dari perjalanan. Hubungan boleh menjadi bagian dari kehidupan, tetapi jangan sampai menjadi alasan untuk berhenti berkembang.