Gowa — Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar menggelar pelantikan pengurus Dewan Mahasiswa (Dema), Senat Mahasiswa (Sema), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), dan Lembaga Dakwah Fakultas pada Selasa, 27 Januari 2026, bertempat di Lecture Theater Prof. Dr. Abdul Muin Salim. Pelantikan ini menandai awal masa kepengurusan baru yang secara resmi memikul tanggung jawab organisasi.
Acara dihadiri oleh pimpinan fakultas, termasuk Wakil Dekan, Ketua dan Sekretaris Program Studi, Kepala Bagian Tata Usaha, serta tenaga kependidikan. Kehadiran mereka menegaskan pentingnya hubungan yang harmonis antara pimpinan fakultas dan lembaga kemahasiswaan, sekaligus menjadi momentum refleksi terhadap peran strategis mahasiswa dalam dinamika akademik.
Dalam sambutannya, Dekan menekankan bahwa lembaga kemahasiswaan bukan sekadar wadah administratif, melainkan jembatan kritis antara aspirasi mahasiswa dan kebijakan fakultas. Ia mengingatkan bahwa kemampuan pengurus dalam menyalurkan aspirasi mahasiswa secara bijak dan konstruktif akan menentukan kualitas interaksi antara mahasiswa dan pihak fakultas.
Dekan juga menegaskan bahwa mahasiswa harus berperan aktif dalam membentuk intelektualitas, karakter, dan kepemimpinan yang matang, agar kontribusi mereka tidak berhenti di lingkungan kampus, tetapi dapat dirasakan nyata oleh masyarakat. Selain itu, kemampuan komunikasi, termasuk public speaking dan penguasaan bahasa Indonesia maupun bahasa asing, disebut sebagai modal penting dalam menghadapi tuntutan akademik dan dunia profesional.
Lebih kritis, dekan mengingatkan bahwa kepemimpinan lembaga mahasiswa tidak dapat dijalankan semata-mata atas dasar formalitas. Integritas, tanggung jawab, dan loyalitas terhadap organisasi merupakan fondasi yang harus terus dijaga. Sumpah jabatan dan Pakta Integritas yang telah diikrarkan bukan sekadar simbol, melainkan pedoman nyata bagi pengurus dalam menjalankan amanah.
Dengan pelantikan ini, diharapkan lembaga kemahasiswaan dapat bergerak lebih progresif, kritis, dan inovatif, sehingga kontribusinya tidak hanya mendukung visi dan misi fakultas, tetapi juga memperkuat budaya akademik yang partisipatif, reflektif. Sebagaimana ungkapan yang dituturkan KH. Agus salim “Leiden is lijdeen” bahwa memimpin adalah menderita, yakni penderitaan empati yaitu harus merasakan penderitaan rakyatnya, penderitaan pengorbanan atau kesiapan mengenyampingkan kepentingan pribadi dan kenyamanan, serta penderitaan tanggung jawab atau beban moral yang tidak ringan dalam mengambil keputusan.
(al/AL)





